Rabu, 01 Januari 2014

ilmu reproduksi ternak

BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak dengan materi Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Ternak dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 7 Oktober 2013 pukul 09.00-11.00 WIB di Laboratorium Genetika, Pemuliaan dan Reproduksi Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1.            Materi

Dalam praktikum Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Ternak menggunakan bahan yaitu organ reproduksi jantan dan betina pada sapi, babi dan domba. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah nampan sebagai tempat untuk meletakkan organ reproduksi ternak yang diamati, kertas keterangan alat reproduksi untuk memberi nama alat reproduksi ternak, jarum pentul untuk menempelkan kertas keterangan alat reproduksi sesuai dengan bagiannya, dan alat tulis untuk menggambar dan mencatat hasil pengamatan organ reproduksi ternak.
1.2.   Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum Anatomi dan Fisiologi Organ Reproduksi Ternak adalah melakukan pengamatan terhadap organ reproduksi jantan dan betina pada sapi, domba, dan babi. Memberi tanda pada bagian-bagian dari organ reproduksi dengan menggunakan kertas keterangan alat reproduksi yang telah disediakan dan menempelkan dengan jarum pentul pada organ yang sesuai. Menggambar masing-masing organ reproduksi ternak tersebut, kemudian memberikan fungsi dan keterangan pada bagian-bagiannya.



BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.      Anatomi Organ Reproduksi  Jantan
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil anatomi dan fisiologi organ reproduksi jantan pada sapi, domba dan babi sebagai berikut:
1
2
3
4
5
6
7
8
Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber : Sorenson, 1979 dalam Yusuf, 2012
1
2
3
4
5
6
7
8
Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber : Sorenson, 1979 dalam Yusuf, 2012
1
2
3
4
5
6
7
8
Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber : Sorenson, 1979 dalam Yusuf, 2012
Ilustrasi 1. Anatomi Organ Reproduksi Sapi, Domba dan Babi

Keterangan :    1. Testis, 2. Epididimis: a. Caput, b. Corpus, c. Cauda, 3. Kelenjar
  Asesoris: a. Prostate, b. Versikularis, c. Cowper, 4. Ampula,
  5.Sigmoid Flexura 6.  Retractor Penis Muscle, 7. Penis, 8. Gland
  Penis.

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan mengenai pengamatan preparat segar alat reproduksi sapi jantan, domba jantan, dan babi jantan diperoleh bahwa alat reproduksi sapi jantan terdiri dari testis, epididimis, kelenjar aksesori, ampula, sigmoid flexura, retractor penis muscle, penis dan gland penis. Alat reproduksi domba jantan terdiri dari testis, epididimis, ampula, sigmoid flexura, retractor penis muscle, penis dan gland penis. Sedangkan alat reproduksi babi jantan terdiri dari kelenjar aksesori, sigmoid flexura, retractor penis muscle, penis dan gland penis. Alat reproduksi domba jantan dan babi jantan tidak lengkap seperti pada sapi jantan karena dalam pengambilan di rumah potong hewan tidak diberikan secara lengkap. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa organ reproduksi jantan terdiri atas gonad, saluran reproduksi, kelenjar-kelenjar aksesoris kelamin, dan organ kopulaturis. gonad pada jantan yaitu testis, saluran reproduksi meliputi epididimis, ductus deferens, dan urethra, sedangkan kelenjar-kelenjar aksesoris terdiri dari ampula, kelenjar vesikularis, kelenjar prostat, dan kelenjar cowper. Diperkuat oleh pendapat Yusuf (2012) bahwa organ kelamin primer adalah testis yang belokasi di dalam skrotum yang menggantunga secara eksternal di daerah inguinal, organ kelamin sekunder terdiri dari jaringan-jaringan ductus sebagai transportasi spermatozoa dari testis ke bagian luar termasuk didalamnya ductus deferens, epididimis, vas deferens, penis dan uretra, serta organ aksesori terdiri dari kelenjar prostat, seminal vesikularis dan kelenjar bulbo-urethral (Cowper’s).

2.1.1.   Testis
            Testis adalah organ reproduksi jantan pada manusia dan hewan. Testis berada di luar tubuh dan terbungkus oleh kantong yang bernama skrotum. Testis berfungsi untuk menghasilkan sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa testis terletak pada daerah prepubis, terbungkus dalam kantong skrotum dan digantung oleh funiculus spermaticus yang mengandung unsur-unsur yang terbawa oleh testis dalam perpindahannya dari cavum abdominalis melalui canalis inguinalis ke dalam skrotum. Ditambahkan oleh Djanuar (1985) bahwa testis sebagai organ reproduksi primer yang mempunyai dua fungsi utama yaitu memproduksi spermatozoa dan mensekresikan hormon kelamin jantan yang berupa testosterone. Testis ini diselubungi oleh selapis tenunan pengikat yang tipis dan elastis.


2.1.2.   Epididimis
            Epididimis adalah pipa panjang dan berkelak-kelok sebagai alat penghubung. Epididimis itu sendiri mempunyai fungsi sebagai transportasi, konsentrasi, penyimpanan, dan maturasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa epididimis adalah suatu struktur memanjang yang bertaut rapat dengan testis. Ia mengandung ductus epididimidis yang sangat berliku-liku, dan mencapai panjang lebih dari 40 meter pada jantan dewasa dan kurang lebih 60 meter pada babi dan 80 meter pada kuda. Epididimis dapat dibagi atas kepala, badan, dan ekor. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusuf (2012) yang menyatakan bahwa epididimis berfungsi sebagai transportasi, yaitu untuk mengangkut spermatozoa, konsentrasi, yaitu untuk konsentrasi spermatozoa, penyimpanan, yaitu untuk  penyimpanan spermatozoa, dan maturasi, yaitu untuk pematangan spermatozoa.
2.1.3.   Vas Deferens
Berdasarkan hasil pengamatan vas deferens merupakan saluran penghubung antara urethra dengan epididimis. Pada ujung vas deferens terdapat pembesaran bagian yang disebut ampula. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) bahwa vas deferens yaitu saluran berbentuk tabung bulat, yang menghubungkan epididimis dengan urethra pada penis. Hal tersebut didukung oleh Frandson (1992) bahwa pipa berotot yang pada saat ejakulasi mendorong spermatozoa dari epididimis ke ductus ejakulatoris dalam urethra prostatic.
 Ampula merupakan pembesaran kelenjar pada bagian ujung vas deferens yang disebabkan karena banyak terdapat kelenjar pada dinding saluran. Ampula berfungsi sebagai muara yang memberikan cairan semen.  Hal ini sesuai dengan pendapat dari  Toelihere  (1981) yang menyatakan bahwa ampula mengandung fruktosa dan asam sitrat, meskipun kelenjar vesikularis merupakan sumber terbesar penghasil substansi ini. Ditambahkan oleh Frandson (1992) yang menyatakan bahwa kelenjar ampula ini bermuara kedalam ductus deferens dan memberikan cairan semen.
2.1.4.   Kelenjar Aksesoris
Kelenjar aksesoris terletak pada dinding ductus deferens, kelenjar aksesoris menghasilkan semen yaitu sebagai media transport sperma. Semen menyediakan kondisi yang baik bagi nutrisi sperma dan berperan sebagai buffer ketika berada di saluran reproduksi betina yang bersifat asam. Kelenjar aksesoris pada hewan jantan terdiri atas kelenjar vesikularis, kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis atau cowper. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Frandson (1992) yang menyatakan bahwa kelenjar-kelenjar kelamin aksesoris pada hewan jantan meliputi  kelenjar vesikularis/seminalis vesikularis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper, kelenjar-kelenjar ini berfungsi menghasilkan sebagian besar bahan ejakulasi atau semen yang berperan dalam transport sperma, sebagai medium yang cocok untuk makanan dan sebagai buffer terhadap sifat keasamaan yang berlebih pada saluran genital betina. Ditambahkan oleh pendapat dari Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa kelenjar aksesoris terletak di dinding ductus deferens dan mempunyai masing-masing fungsi dalam sistem reproduksi individu jantan.
Kelenjar vesikularis, merupakan kelenjar yang bermuara dengan ductus  deferens melalui bermacam-macam ductus ejakulatori. Kelenjar ini berfungsi untuk memberi nutrisi pada sperma dan memberi cairan pada sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa kelenjar vesikularis mengeluarkan zat cair yang agak kental dan lengket yang mengandung potassium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa macam enzim serta sebagian nutrisi untuk sel sperma. Ditambahkan oleh Frandson (1992) yang  menyatakan bahwa kelenjar vesikularis adalah sepasang kelenjar yang biasanya bermuara dengan ductus deferens.
Kelenjar prostat, merupakan kelenjar yang tidak berpasangan, bentuknya bulat dan lebih kecil dari kelenjar vesikularis. Kelenjar ini menghasilkan sekreta yang bersifat alkalis yang berperan sebagai buffer saat berada disaluran reproduksi betina dan memberikan bau yang spesifik yaitus permin pada cairan semen. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Frandson (1992) yang menyatakan bahwa kelenjar prostat menghasilkan sekresi alkalin yang membantu memberikan bau yang karakteristik pada cairan semen. Ditambahkan oleh Blakely dan Bade (1991) yang menyatakan bahwa kelenjar prostat selain memberikan bau yang khas pada semen tetapi juga mengandung mineral yang tinggi yang digunakan sebagai bahan makanan untuk sperma dalam semen.
Kelenjar cowper, merupakan sepasang kelenjar yang terletak pada tiap sisi pelvis urethra, fungsi kelenjar cowper adalah untuk membersihkan dan menetralisir urethra dari bekas urin dan kotoran sebelum ejakulasi berlangsung. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa fungsi utama kelenjar cowper adalah untuk membersihkan dan menetralisir urethra dari bekas urin dan kotoran-kotoran lainnya sebelum diejakulasikan. Ditambahkan oleh Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa kelenjar cowper sebelum kopulasi sering terlihat adanya tetesan-tetesan cairan dari penis.

2.1.5.   Penis
            Penis merupakan organ  kopulasi jantan yang terletak di dalam preputium dan mempunyai bentuk seperti silinder. Fungsi penis itu sendiri adalah sebagai saluran untuk pengeluaran urin dan menyalurkan semen ke dalam saluran reproduksi betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa organ kopulasi pada hewan jantan adalah penis. Bagian ujung penis tersebut terdapat gland penis, yang berfungsi sebagai alat ejakulasi atau penyemprotan sperma. Selain itu juga terdapat lekukan yang berbentuk sigmoid yaitu flexure sigmoid. Flexure sigmoid itu akan menjadi lurus jika terjadi ereksi. Hal itu sesuai dengan pendapat Yusuf (2012) yang menyatakan bahwa sapi, babi hutan dan domba memiliki lentur sigmoid, sebuah lekukan berbentuk S pada penis yang memungkinkan untuk ditarik kembali sepenuhnya ke dalam tubuh. Urethra adalah saluran urogenitalis, jadi untuk urin dan semen yang disebut urethra adalah bagian saluran yang tergantung dari tempat bermuaranya ampula vas deferens sampai ke ujung penis. Hal ini sesuai dengan Girisonta (1981) yang menyatakan bahwa urethra menghubungkan kandung kemih dengan gland penis yang berfungsi untuk mengalirkan air kencing dan semen.


2.2.      Perbedaan Anatomi Organ Reproduksi  Sapi, Domba dan Babi Jantan


Bedasarkan hasil pengamatan diperoleh perbedaan bentuk organ reproduksi jantan antara sapi, babi dan domba. Pada sapi bentuk gland penis bulat memanjang, pada domba terdapat processus urethralis yang berfungsi untuk mendeposisikan semen tepat pada serviks, sedangkan pada babi bentuknya seperti matabor. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa gland penis sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Perbedaan juga terlihat pada bentuk penis, pada sapi penisnya berbentuk bulat panjang dan bertipe fibroelastis, yaitu keadaannya agak kaku dan kenyal meskipun tidak dalam keadaan ereksi sedangkan pada domba dan babi penisnya kecil dan pendek. Testis pada sapi dan domba berbentuk lonjong dan berukuran panjang sedangkan pada babi berbentuk oval agak kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Hafez (1987) yang menyatakan bahwa domba memiliki testis berbentuk lonjong, berukuran panjang 0,75 -1,15 cm, diameter 0,35- 0,68 cm dan bobot 250-300 gram. Ditambah oleh pendapat Toelihere (1981) bahwa letak skrotum berbeda-beda dimana pada sapi dan domba terletak diantara umbilicus ke belakang, sementara pada babi terletak tepat dibawah anus. Skrotum merupakan suatu kantong yang terbagi oleh septum skroti menjadi dua ruangan dan masing-masing terisi oleh testis. Fungsi utama skrotum adalah untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1 sampai 80 C lebih dingin dibandingkan temperatur rongga tubuh. Letak skrotum pada sapi dan domba terletak di daerah prepubicum, sedangkan pada babi terletak di daerah anal sedikit sebelah ventral dari anus.  Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa skrotum adalah kulit berkantong  yang ukuran, bentuk dan lokasinya menyesuaikan dengan testis yang dikandungnya. Ditambah oleh pendapat Frandson (1992) bahwa fungsi skrotum yaitu mengatur temperatur testis dan epidermis agar tidak terlalu rendah dengan suhu.


2.3.      Anatomi Organ Reproduksi  Betina
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil anatomi dan fisiologi organ reproduksi betina pada sapi, domba dan babi sebagai berikut:

1
2
3
4
5
6

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber: Frandson, 1992

1
2
3
4
5
6


Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber: Yusuf, 2012
1
2
3
4
5
6

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber: Frandson, 1992
Ilustrasi 2. Organ Reproduksi Betina pada Sapi, Domba dan Babi

Keterangan:     1. Ovarium, 2. Oviduk , 3. Uterus, 4. Serviks, 5. Vagina, 6. Vulva
Berdasarkan pengamatan pada organ reproduksi sapi betina, domba betina dan babi betina diperoleh hasil bahwa organ reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, serviks, vagina dan vulva. Hal ini sesuai dengan pendapat Tomaszewska et al., (1991) bahwa organ-organ reproduksi betina terdiri dari 2 buah ovari, 2 oviduk atau tuba fallopi, uterus, serviks, vagina dan vulva. Kinerja dari keseluruhan organ reproduksi betina dimulai dari ovarium yang menghasilkan sel telur dan hormon estrogen juga progesteron, selanjutnya sel telur akan melewati oviduk yang didalamnya terjadi fertilisasi dan apabila terjadi pembuahan akan berkembang menjadi embrio. Hal ini diperkuat oleh pendapat Frandson (1992) bahwa ovum atau telur dilepaskan dari ovari dan diterima oleh infundibulum lalu dibawa masuk ke tuba uteri, dimana terjadi proses pembuahan atau fertilisasi dan di dalam uterus, telur yang sudah dibuahi itu berkembang menjadi embrio. Selanjutnya, individu baru akan keluar  melewati serviks, vagina dan vulva.
2.3.1.   Ovarium
            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi organ reproduksi ternak dapat diketahui bahwa dalam sistem reproduksi terdapat organ ovarium yang merupakan organ reproduksi primer dan memiliki peran yang penting yaitu memproduksi sel telur  melalui proses oogenesis, serta menghasilkan hormon-hormon kelamin seperti esterogen dan progresteron. Ovarium terdapat sepasang yaitu sebelah kanan dan kiri yang berbentuk oval seperti kacang almond. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa ovarium adalah organ primer pada betina yang mampu menghasilkan hormon dan juga ovum dan merupakan sepasang kelenjar yang terdiri dari ovarium kanan dan kiri. Diperkuat oleh Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa ovarium mempunyai dwifungsi, sebagai organ yang menghasilkan sel telur dan yang mensekrasikan hormon-hormon kelamin betina esterogen dan progesteron.
2.3.2.   Oviduk
            Berdasarkan hasil pengamatan praktikum anatomi organ reproduksi dapat diketahui bahwa oviduk merupakan organ reproduksi sekunder yang berbentuk saluran yang menghubungkan antara ovarium dengan uterus. Oviduk mempunyai fungsi sebagai tempat bertemunya sel telur dengan sperma atau tempat terjadinya fertilisasi antara sel telur dan sperma. Bentuk oviduk antara sapi, domba dan babi berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa oviduk merupakan saluran yang berpasangan yang menghantarkan sel telur menuju ke tanduk uterus dan juga merupakan tempat fertilisasi sel telur oleh sel spermatozoa. Diperkuat oleh Toelihere (1981) bahwa oviduk merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku dan berfungsi sebagai tempat bertemunya sel telur dengan sperma. Menurut Blakely dan Bade (1991) pembuahan yaitu persatuan antara sel telur dan sperma, terjadi di sepertiga bagian atas dari oviduk. Peristiwa seperti ini dapat terjadi di kedua sisi sistem pasangan itu.

2.3.3.   Uterus
            Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dapat diketahui bahwa uterus merupakan organ reproduksi yang memiliki peran penting dalam sistem reproduksi yaitu sebagai tempat berkembangnya dan mempertahankan sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma hingga menjadi embrio serta untuk mempermudah pengangkutan sperma ke oviduk. Uterus terdiri dari dua tanduk (cornua uteri) yang kemudian bergabung dengan badan uterus (corpus uteri) yang terletak antara oviduk dengan serviks. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri dari corpus (badan), serviks (leher) dan dua tanduk (cornua), dalam uterus ruminansia merupakan tempat perlekatan sel telur yang telah dibuahi. Diperkuat oleh Toelihere (1981) bahwa uterus pada sapi berbentuk bicornis dengan kedua cornua meninggalkan corpus uteri pada suatu sudut lancip dan terletak hampir sejajar satu sama lain dan berfungsi untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi dan terdiri cornua, corpus dan cervix.
2.3.4.   Serviks
            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka dapat diketahui bahwa serviks merupakan organ yang masih bagian dari uterus tetapi memiliki perbedaan mendasar yaitu serviks memiliki dinding yang tebal dan elastis. Serviks mempunyai fungsi untuk menghindari kontaminasi mikroba terhadap uterus dengan menghasilkan lendir yang bersifat anti bakteri. Letak serviks yaitu berada antara uterus dengan vagina. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa serviks merupakan otot polos yang kuat dan tertutup rapat dan akan memproduksi cairan anti bakteri guna mencegah masuknya zat-zat yang membawa infeksi dari vagina kedalam uterus. Diperkuat oleh Toelihere (1981) bahwa serviks merupakan suatu otot yang sangat kuat dan terdapat antara vagina dan uterus.
2.3.5.   Vagina
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa bagian saluran reproduksi betina yang dilewati setelah serviks adalah vagina. Vagina merupakan bagian saluran reproduksi betina yang terletak di pelvis antara uterus dan vulva. Hal ini sesuai dengan Tomaszewska et al., (1991) yang menyatakan bahwa vagina dan vestibula terletak dalam pelvis, keduanya terletak memanjang dari depan mulut serviks luar sampai ke belakang pada vulva. Fungsi dari vagina itu sendiri adalah sebagai tempat masuknya alat kelamin jantan atau testis saat kopulasi dan sebagai saluran atau jalan kelahiran. Hal ini sesuai dengan pendapat Yusuf (2012) yang menyatakan bahwa vagina merupakan organ kopulasi pada betina.
2.3.6.   Vulva
            Berdasarkan hasil pengamatan pada vulva dapat diketahui bahwa vulva merupakan organ reproduksi dimana letaknya berada pada bagian terluar yang sebelumnya terhubung dengan vagina. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa vulva adalah bagian eksternal dari gentitalia betina yang terentang dari vagina sampai ke bagian yang paling luar. Fungsi dari vulva sebagai saluran paling luar saat terjadinya kopulasi dan sebagai tanda saat mengalami birahi dimana pada vulva berwarna merah dan agak membengkak. Hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa pada permukaan vulva terdapat banyak kelenjar subaceous (kelenjar kulit) dan saat birahi vulva dapat menjadi tegang karena bertambahnya volume darah yang mengalir ke dalamnya.



2.4.      Perbedaan Anatomi Organ Reproduksi Sapi, Domba dan Babi Betina
            Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada praktikum anatomi organ reproduksi maka dapat diketahui organ reproduksi betina sapi, domba dan babi memiliki perbedaan yaitu pada babi berbentuk seperti anggur sementara pada domba dan sapi berbentuk seperti kacang almond atau oval. Perbedaan selanjutnya pada uterus babi lebih panjang dan berkelok-kelok, sedangkan pada sapi dan domba lebih pendek dan tidak berkelok-kelok dikarenakan kemampuan babi untuk mengandung banyak anak. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa uterus sapi lebih besar dibandingkan dengan keadaan sebenarnya, uterus pada babi mempunyai struktur yang berkelok-kelok sehingga memungkinkan babi untuk beranak banyak. Selain itu servik pada babi lebih tebal dari pada sapi dan domba. Ditambahkan oleh Toelihere (1981) bahwa pada sapi, ovarium berbentuk oval dan bervariasi dalam ukuran panjang, lebar dan tebalnya.






BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1.      Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum dapat disimpulkan bahwa organ reproduksi pada ternak jantan terdiri dari testis, epididimis, vas deferens, ampula, kelenjar aksesoris dan penis. Perbedaan organ reproduksi pada sapi, domba dan babi terletak pada bentuk dan ukuran testis dan penisnya. Organ reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, serviks, vagina, dan vulva. Perbedaan antara organ reproduksi pada sapi, babi dan domba terletak pada bentuk ovarium, serviks, uterus dan vagina.

3.2.      Saran
            Adapun saran dalam praktikum ilmu reproduksi ternak dengan materi organ reproduksi sebaiknya organ reproduksi yang digunakan dalam keadaan lengkap sehingga dalam proses pengamatan tidak membingungkan.



DAFTAR PUSTAKA
Blakely. J. dan Bade, D. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Djanuar. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University, Yogyakarta.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Girisonta. 1981. Pedoman Lengkap Berternak Babi. Kanisius, Yogyakarta
.
Hafez, E.S.E. 1987. Reproduction In Farm Animals. Lea and Febiger, Philadelphia.

Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.

Tomaszewska, M.W., I Ketut Sutama, I Gede Putu, T. D. Chaniago. 1991. Reproduksi Tingkah Laku dan Produksi Ternak di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta          
Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa, Bandung.

Yusuf, M. 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Lembaga Kajian Dan Pengembangan Pendidikan Universitas Hasanuddin, Makassar.







BAB I
MATERI DAN METODE

Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak dengan materi Sel Gamet dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 27 Oktober 2013 pukul 11.00-13.00 WIB di Laboratorium Genetika, Pemuliaan dan Reproduksi Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.

1.1.      Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum Sel Gamet Jantan dan Betina yaitu container yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan semen beku, pinset yang berfungsi untuk mengambil semen beku dari container, gelas yang berfungsi sebagai tempat air dengan suhu 360 C, gunting yang berfungsi untuk memotong straw, tabung reaksi yang berfungsi untuk menampung semen yang akan diamati, pipet yang berfungsi untuk mengambil semen dalam volume tertentu, mikroskop yang berfungsi untuk mengamati sel sperma dan ovum, cawan petri yang berfungsi sebagai wadah atau tempat meletakkan ovum, disposible syringe dan spuit yang berfungsi untuk mengambil cairan dalam ovum, LCD proyektor dan media movie yang berfungsi untuk menampilkan sel sperma dan ovum sebagai pembanding, foto ovum yang berfungsi sebagai media pembanding pengamatan ovum, alat tulis dan buku praktikum yang berfungsi untuk mencatat hasil pengamatan. Sedangkan, bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu NaCl fisiologis, semen beku dan ovarium.

1.1.      Metode

Metode yang dilakukan dalam praktikum sel gamet dibagi menjadi dua yaitu sel gamet jantan dan sel gamet betina. Pada praktikum sel gamet jantan metode yang dilakukan adalah mengambil semen beku yang berada didalam container menggunakan pinset, memasukkan semen yang sudah diambil kedalam gelas yang sudah berisi air bersuhu 360 C selama 30 detik, memotong straw dan menampung semen yang sudah dicairkan dalam tabung reaksi, mengambil semen menggunakan pipet tetes, meneteskan pada kaca preparat, menutupnya dengan kaca penutup, mengamati semen tersebut dengan menggunakan mikroskop, mengamati dan menggambar bagian-bagian sel sperma beserta fungsinya pada buku praktikum. Pada praktikum sel gamet betina, metode yang dilakukan adalah mengambil spuit dan mengisinya dengan NaCL fisiologis sebanyak 1 ml, mengambil ovarium yang telah disediakan, menusukkan spuit pada folikel yang matang (folikel de graff), menghisap cairan pada folikel–folikel tersebut menggunakan spuit untuk mengambil ovum, meletakkan cairan yang didapat pada kaca preparat, mengamati ovum menggunakan mikroskop dan mengambar ovum sesuai pengamatan beserta fungsinya pada buku praktikum.





BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.      Spermatogenesis
            Berdasarkan hasil praktikum mengenai sel gamet jantan, diperoleh data sebagai berikut:

 

1
2
3
4
5
Sumber: Data Primer Praktikum
  Ilmu Reproduksi Ternak,
  2013.

Sumber: Yusuf, 2012.
Ilustrasi 3. Spermatogenesis
Keterangan: 1. Spermatogonium, 2. Spermatosit primer, 3. Spermatosit sekunder,
                     4. Spermatid, 5. Spermatozoa.
            Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh bahwa didalam testis terjadi suatu proses pembentukkan sel sperma yang dinamakan dengan spermatogenesis. Proses spermatogenesis terjadi beberapa tahap, tahap pertama adalah spermatogonium yang berkembang menjadi spermatosit primer melalui proses mitosis. Hal ini sesuai dengan pendapat Ville et al., (1999) yang menyatakan bahwa spermatogenesis dimulai dengan pertumbuhan spermatogonium menjadi sel yang lebih besar yang disebut spermatosit primer melalui pembelahan secara mitosis. Kemudian, spermatosit primer akan membelah menjadi spermatosit sekunder secara mitosis yang kemudian mengalami pembelahan lagi secara meiosis menghasilkan spermatid dan berkembang menjadi spermatozoa. Hal ini sesuai dengan pendapat Manuaba et al., (2007) yang menyatakan bahwa spermatosit pertama memecah diri menjadi spermatosit kedua dan akan tumbuh berkembang menjadi spermatid. Dapat disimpulkan bahwa didalam proses pembentukkan sperma atau spermatogenesis menghasilkan empat sel sperma.

2.2.      Sel Gamet Jantan
Berdasarkan hasil praktikum mengenai sel gamet jantan, diperoleh data sebagai berikut:

1
2
3
4
5
6
7
8
Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber : Rohen dan Elke, 2008
Ilustrasi 4. Sel Gamet Jantan
Keterangan :    1. Akrosom, 2. Nukleus, 3. Sitoplasma, 4. Sentriol, 5. Mitokondria,
6. Cincin terminaldis, 7. Membran pelindung,   8. Ekor
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa sel sperma tersusun atas kepala, badan dan ekor. Pada bagian kepala sperma terdiri atas akrosom, nukleus, sitoplasma dan sentriol sedangkan pada bagian badan dan ekor sperma terdiri dari mitokondria, cincin terminaldis dan ekor. Hal ini sesuai dengan pendapat
Huliana (2001) bahwa sperma terdiri dari bagian kepala, leher dan ekor. Kepala sperma berbentuk lonjong (agak gepeng) dan mengandung inti berisi kromosom, leher sperma menghubungkan bagian kepala dan ekor, sedangkan ekor dapat bergetar sehingga sperma dapat bergerak cepat serta panjang sperma sekitar 50 mikron. Pengamatan sel gamet jantan dilakukan dengan cara mengambil semen beku dari container nitrogen dengan pinset kemudian melakukan thawing yaitu merendam dalam air setelah itu memotong pada tengah-tengah dan menuangkan pada tabung reaksi. Setelah menuangkan dalam gelas ukur, mengambil semen yang sudah di thawing menggunakan pipet dan meneteskan 1 tetes
semen pada object glass kemudian menutup dengan kaca penutup dan mengamati dibawah mikroskop cahaya dengan perbesaran obyektif 40x. Hal ini sesuai dengan pendapat Wasito dan Sarwanto (2008) bahwa pemeriksaan mikroskopis spermatozoa dapat dilakukan dengan meneteskan 1 tetes semen pada object glass dan ditutup dengan kaca penutup kemudian dilihat dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran lensa obyektif 40x.
2.2.1.   Membran Plasma
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa membran plasma berfungsi untuk melindungi sperma agar dapat masuk menembus ke sel telur, selain itu membran plasma merupakan lapisan yang paling luar dari sel sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury dan VanDemark (1984) yang menyatakan bahwa membran membentuk lapisan luar badan spermatozoa yang berasal dari sitoplasma. Fungsi dari membran plasma adalah untuk membungkus sel dan sebagai filter yang sangat selektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumardjo (2009) yang menyatakan bahwa membran plasma bukan hanya sekedar pembungkus sel atau pembatas antar sel dan lingkungannya, tetapi ikut berperan dalam pengaturan isi sel. Menurut Asmarinah (2010) reaksi akrosom adalah suatu proses eksositosis yang ditandai dengan terjadinya fusi antara membran plasma, sperma dan membran luar akrosom di bagian anterior kepala sperma, sehingga memungkinkan enzim-enzim hidrolitik yang dikandung kantung akrosom tersebut keluar melalui pori-pori yang terbentuk dan selanjutnya enzim-enzim tersebut akan meliliskan lapisan luar sel telur.

2.2.2.   Akrosom
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa akrosom berfungsi untuk menembus sel telur pada ovarium yang dibantu oleh enzim hyaluronidase dan enzim akrosin yang berfungsi untuk melarutkan protein agar mudah menembus zona pellucida pada sel ovarium. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) bahwa enzim hyaluronidase atau zona lysin yang berada di akrosom bersama perforatorium digunakan untuk penerobosan dinding ovum. Ditambahkan oleh Campbell et al,. (2004) bahwa akrosom mengandung enzim yang membantu sperma menembus sel telur.


2.2.3.   Sitoplasma
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa setelah akrosom terdapat sitoplasma yang merupakan bagian sel yang terbungkus oleh membran sel yang mengandung berbagai macam organel-organel. Hal ini sesuai dengan pendapat Isnaeni (2006) bahwa di dalam sitoplasma terdapat organela sel seperti retikulum endoplasma, aparatus golgi, lisosom, mitokondria, membran inti dan sentriol. Ditambahkan oleh Sugito dan Mujasam (2009) bahwa sitoplasma adalah fase cair dalam sel yang mengandung berbagai macam konstituen berupa organel sel, antara lain mitokondria, ribosom dan lain-lain. Fungsi dari sitoplasma itu sendiri adalah untuk transpor nutrisi dan berperan dalam metabolisme sel.

2.2.4.   Nukleus
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa nukleus berfungsi sebagai pembawa materi genetik berupa DNA dan mengatur aktivitas sperma. Letak nukleus berada pada kepala sperma bagian tengah. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) bahwa fungsi utama nukleus adalah pembawa pesan-pesan gen dan pusat pengatur segala aktivitas gen. Ditambahkan oleh Sloane (1994) bahwa nukleus mengandung materi genetik sel atau DNA yang mengkode informasi untuk mengontrol sintesis protein dan reproduksi sel serta untuk mengatur aktivitas selular.


2.2.5.   Sentriol
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa sentriol terletak di leher sperma diantara mitokondria dengan sitoplasma atau nukleus. Sentriol memiliki fungsi untuk memutuskan antara ekor dengan kepala. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury dan VanDemark (1984) yang menyatakan bahwa golgi terletak di bagian belakang nukleus yang menjadi bagian dari lehernya dan membentuk 2 benda yang terwarnai dengan zat warna perak yang disebut granula agretrophil atau sentriol. Ditambahkan oleh Frandson (1992) bahwa cincin terminal yang menghubungkan antara kepala dan badan spermatozoa nantinya akan berfungsi sebagai pemutus antara kepala dan badan sehingga kepala spermatozoa menembus membran vitelin.

2.2.6.   Mitokondria
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa mitokondria terletak pada badan sel yang memiliki bentuk seperti ikatan-ikatan. Fungsi dari mitokondria adalah sebagai penghasil energi yang digunakan untuk pergerakan sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Manuaba et al., (2007) yang menyatakan bahwa mitokondria mengandung RNA dan DNA sehingga dapat bereplikasi dengan bebas dan energi yang terdapat dalam mitokondria dipergunakan untuk gerakan spermatozoa melalui ekornya. Pada bagian tengah digambarkan sebagai pusat tenaga sperma karena mitokondria berada terpusat dalam daerah ini. Hal ini sesuai dengan Rohen dan Elke (2008) yang menyatakan bahwa di bagian tengah terdapat mitokondria, berakhir dalam suatu lilitan yang padat dan membentuk seperti skrup.

2.2.7.   Ekor Sperma
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa pada ekor sperma terdapat bagian menyerupai flagellum yang didalamnya terdapat fibril-fibril yang dapat berputar dan menggerakan sperma untuk mencapai ke sel telur pada organ reproduksi betina. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa ekor sperma menyerupai flagellum yang di dalamnya terdapat dua fibril sentral yang dikelilingi oleh sebuah cincin yang terdiri dari 9 pasangan fitrif perifer dan fibril-fibril ini bersifat kontraktil dan menimbulkan gerakan ekor sperma. Ditambahkan oleh Partodiharjo (1990) bahwa ukuran ekor sperma yaitu garis tengah 0.25-0.5 mikron. Bagian ujung mungkin bergaris tengah kurang dari 0.25 mikron, panjang 44-50 mikron.




2.3.      Perbedaan Morfologi Sperma pada Sapi, Unggas dan Mencit
            Berdasarkan hasil praktikum mengenai sel gamet jantan diperoleh data sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum
Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Ville et al., 1999

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Ville et al., 1999

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Ville et al., 1999
Ilustrasi 5. Perbedaan Morfologi Sperma pada Sapi, Unggas dan Mencit
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa perbedaan sel gamet jantan setiap spesies memiliki beberapa perbedaan. Pada umumnya perbedaan sel gamet jantan antara sapi, unggas dan mencit sangat terlihat pada bentuk kepala sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa ukuran dan bentuk spermatozoa berbeda pada berbagai jenis hewan, namun memiliki struktur dan morfologi yang sama. Bentuk kepala pada sperma sapi berbentuk seperti bola, bulat. Berbeda pada jenis hewan yang lain, spermatozoa sapi sangat berbeda bentuk dan ukuran dengan spermatozoa ayam, manusia dan tikus. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardijanto et al., (2007) yang menyatakan bahwa sel spermatozoa sapi memiliki bentuk yang sama dengan sel spermatozoa domba, kambing, kuda, kerbau, anjing dan babi yaitu bulat telur dan pipih.
Berdasarkan hasil praktikum, ditemukan bahwa bentuk kepala sperma pada unggas berbentuk lonjong memanjang dan runcing pada bagian akrosom. Hal ini sesuai dengan pendapat Gilbert (1980) yang menyatakan bahwa sperma unggas memiliki bentuk kepala yang silindris memanjang dengan akrosom yang meruncing dan sedikit melengkung dengan ukuran panjang 12 – 13 μm dan diselimuti akrosom (2 μm). Berbeda dengan bentuk kepala sperma pada mencit, mencit memiliki bentuk kepala sperma seperti sabit. Hal ini sesuai dengan pendapat Nugraheni et al., (2003) yang menyatakan bahwa kepala spermatozoa mencit berbentuk kait dan mempunyai panjang +0,008 mm, adapun panjang keseluruhannya adalah +0,1226 mm. Spermatozoa normal memiliki kepala, leher, badan dan ekor. Walaupun berbeda spesies, spermatozoa pada hewan ternak dan vertebrata lainnya memiliki struktur yang sama, yaitu memiliki akrosom, nukleus dan terpasang flagella dengan mitokondria, annulus, dense fibers, dan selubung yang berserat.



2.4.      Oogenesis
Berdasarkan hasil praktikum mengenai sel gamet betina, diperoleh data sebagai berikut:
        



1
2
3
4
5
      
Sumber: Data Primer Praktikum
  Ilmu Reproduksi Ternak,
  2013.

Sumber: Ville et al., 1999.
Ilustrasi 6. Oogenesis
Keterangan: 1. Oogonium,  2. Oosit primer, 3. Oosit sekunder,  4. Ovum,
                     5. Badan kutub.
Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh bahwa didalam ovarium terdapat suatu proses pembentukkan sel telur yang dinamakan dengan oogenesis. Oogenesis merupakan proses pembentukkan sel telur atau ovum di dalam ovarium. Hal ini sesuai dengan pendapat Tomaszewska et al., (1991) yang menyatakan bahwa oogenesis adalah proses pembentukkan, pertumbuhan dan pematangan sel kelamin betina. Pertama, oogonium membelah secara mitosis menghasilkan oosit primer yang akan mengalami pembelahan meiosis I pada masa pubertas dan hasil pembelahannya berupa dua sel haploid berupa satu sel besar disebut oosit sekunder dan satu sel berukuran lebih kecil disebut badan kutub pertama. Hal ini sesuai dengan pendapat Ville et al., (1999) yang menyatakan bahwa beberapa atau semua oogonium berkembang menjadi oosit primer dan mulai pembelahan meiosis I yang menghasilkan satu sel yang besar yaitu oosit sekunder dan satu sel kecil yaitu badan kutub petama. Pada tahap selanjutnya, oosit sekunder dan badan kutub pertama akan mengalami pembelahan meiosis II. Pada saat itu, oosit sekunder akan membelah menjadi dua sel yaitu sel yang berukuran normal yang disebut ootid dan satu sel yang lebih kecil yaitu badan kutub sekunder. Dapat disimpulkan bahwa dalam proses oogenesis hanya dihasilkan 1 sel telur saja, karena ketiga badan kutub lainnya mengalami kehancuran. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa masaknya sel kelamin primer betina hanya menghasilkan satu ovum atau ootid masak dan tiga sel-sel rudimenter yang disebut badan-badan polar atau polosit.




2.5.      Sel Gamet Betina
Berdasarkan hasil praktikum mengenai sel gamet betina, diperoleh data sebagai berikut:
1
2
3
4
5
6


Sumber : Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013

Sumber: Ville et al., 1999.
Ilustrasi 7. Sel Gamet Betina
Keterangan :   1. Cumulus Oophorus,    2. Membran Vitelin, 3. Zona Pellucida
                        4. Corona Radiata, 5. Sitoplasma, 6. Nukleus



Berdasarkan hasil praktikum, dapat diketahui bahwa ovum tersusun atas cumulus oophorus, membran vitelin, zona pellucida, sitoplasma dan nukleus. Hal ini sesuai dengan pendapat Hunter (1995) yang menyatakan bahwa yang mengelilingi dan mendukung oosit adalah cumulus oophorus, corona radiata dan zona pellucida. Sel telur dapat terlihat melalui perbesaran 400x melalui mikroskop. Sel telur dihasilkan dari organ reproduksi betina pada bagian ovarium pada bagian folikel-folikel yang ada di dalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Tomaszewska et al., (1991) yang menyatakan bahwa folikel adalah wadah dari sel telur (ova). Tiap bagian organ reproduksi memiliki letak dan bentuk yang berbeda sehingga fungsinya akan berbeda-beda .

2.5.1.   Cumulus Oophorus
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa cumulus oophorus merupakan lapisan yang paling luar dan memiliki fungsi sebagai penghasil nutrisi untuk ovum dan melindungi keseluruhan ovum. Hal ini sesuai dengan pendapat Guyton (1994) yang menyatakan bahwa cumulus oophorus merupakan transport nutrisi, hormon dan faktor pertumbuhan antara sel membran granulosa dengan oosit. Ditambahkan oleh Frandson (1992) bahwa beberapa sel membran granulose membentuk suatu gundukan di sekitar ovum. Gundukan itu disebut cumulus oophorus.

2.5.2.   Corona Radiata
Berdasarkan hasil praktikum sel gamet betina diperoleh bahwa lapisan kedua dari sel gamet betina atau sel telur setelah cumulus oophorus adalah lapisan yang disebut corona radiata. Pengertian lain dari corona radiata adalah lapisan melingkar yang tersusun atas sel-sel granulosa yang melekat di sisi luar. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa lapisan yang paling dalam yang disebut corona radiata terdiri atas sel-sel folikel silindris yang tersusun secara radial pada seluruh permukaan zona pellucida. Menurut Rohen dan Elke (2008) kumpulan sel folikel yang berdekatan dan berbentuk seperti lingkaran sinar dinamakan corona radiata. Fungsi dari corona radiata adalah sebagai pelindung sel telur di bagian luar.

2.5.3.   Zona Pellucida
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa zona pellucida merupakan salah satu lapisan pelindung pada bagian tengah yang tebal dan terletak antara membran vitelin dengan corona radiata yang mempunyai fungsi untuk melindungi sel telur dan akan menghancurkan sperma lain yang masuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Manuaba et al., (2007) yang menyatakan bahwa zona pellucida mempunyai kemampuan untuk melakukan reaksi zona sehingga dindingnya menutup untuk spermatozoa lainnya. Ditambahkan oleh Hardjopranjoto (1989) bahwa zona pellucida merupakan lapisan tebal dan berbasis protein meliputi bagian luar membran vitelin yang membantu melindungi sel telur.

2.5.4.   Membran Vitelin
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa membran vitelin merupakan bagian dari lapisan pelindung primer pada sel telur yang paling dalam yang terletak antara sitoplasma dengan zona pellucida. Fungsi dari membran vitelin yaitu untuk memblokade sel sperma. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa membran vitelin merupakan membran yang berfungsi menyeleksi sperma yaitu memisahkan kepala dengan ekor. Ditambahkan oleh Sari (2008) bahwa ovum dilapisi tiga macam selaput pelindung yaitu selaput primer, selaput sekunder dan selaput tersier. Selaput primer dihasilkan oleh ovum itu sendiri dan biasa disebut membran vitelin. Selaput sekunder pada mamalia disebut zona pellucida.

2.5.5.   Sitoplasma     
            Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa sitoplasma merupakan suatu cairan yang berfungsi untuk memberikan nutrisi bagi ovum. Pada bagian dalam sitoplasma terdapat berbagai macam organel-organel seperti mitokondria, retikulum endoplasma. Hal itu sesuai dengan pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa sitoplasma berfungsi untuk mentranspor nutrisi dan metabolisme sel. Ditambahkan oleh Sugito dan Mujasam (2009) bahwa sitoplasma adalah fase cair dalam sel yang mengandung berbagai macam konstituen berupa organel sel, antara lain mitokondria, ribosom, dan lain-lain.       

2.5.6.   Nukleus
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa nukleus atau inti sel mempunyai bentuk bulat yang biasanya terletak di tengah-tengah sel. Nukleus berfungsi sebagai pembawa materi genetik yang tersimpan di dalam suatu molekul polinukleutida yaitu DNA. Selain itu juga berfungsi untuk mengatur dan mengontrol segala aktivitas sel. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ville et al., (1999) yang menyatakan bahwa nukleus merupakan bagian yang sangat penting dari sel dan berguna untuk mengatur dan mengendalikan aktivitas seluler serta dibutuhkan di dalam pertumbuhan dan pembelahan. Ditambahkan oleh Sloane (1994) bahwa nukleus mengandung materi genetik sel yaitu DNA yang mengkode informasi untuk mengontrol sintesis protein dan reproduksi sel serta untuk mengatur aktivitas selular.




2.6.      Tipe-Tipe Ovum
            Berdasarkan hasil praktikum mengenai sel gamet betina diperoleh data sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum
Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Gupta et al., 2010

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Gupta et al., 2010

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Gupta et al., 2010

Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013
Sumber: Gupta et al., 2010
Ilustrasi 8. Tipe-tipe Ovum
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa terdapat empat macam tipe ovum yaitu tipe A, B, C dan D. Keseluruhan tipe-tipe ovum, zona pellucida nya dikelilingi oleh cumulus oophorus yang letaknya saling berdekatan dan saling merapat serta jumlahnya yang bervariasi. Hal ini sesuai pendapat Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa sel telur atau ovum terletak pada satu sisi ovarium terbungkus dalam cumulus oophorus. Cumulus oophorus dibentuk oleh ovum dan sel-sel granulosa sekitarnya. Masing-masing tipe ovum dibedakan menurut kuantitas dan tingkatan pada lapisan terluar atau pada cumulus oophorus. Ovum tipe A memiliki lebih dari 6 lapisan. Ovum tipe B memiliki 4-6 lapisan dengan kualitas kurang baik, sedangkan ovum tipe C memiliki 2-4 lapisan dengan kualitas yang jelek. Ovum tipe D memiliki kurang dari 2 lapisan dengan kualitas yang paling buruk. Ditambahkan oleh Frandson (1992) bahwa ovum dibagi menjadi 4 tipe yang didasarkan atas jumlah cumulus oophorus pada ovum itu sendiri.



BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1.      Simpulan
Sel sperma diproduksi di testis sedangkan sel telur di ovarium. Sel gamet jantan terdiri dari akrosom, nukleus, sitoplasma, sentriol, mitokondria, cincin terminaldis, membran pelindung dan ekor, sedangkan pada sel gamet betina terdiri dari cumulus oophorus, membran vitelin, zona pellucida, corona radiata, sitoplasma, dan nukleus. Setiap hewan mempunyai bentuk sperma yang berbeda-beda, seperti sapi mempunyai bentuk kepala sperma berbentuk bola bulat, kepala sperma unggas berbentuk lonjong memanjang, runcing dibagian akrosom dan bentuk kepala sperma mencit seperti sabit.

3.2.      Saran
Adapun saran dalam praktikum ilmu reproduksi ternak adalah jumlah mikroskop yang digunakan dalam praktikum selanjutnya harap diperbanyak agar praktikum lebih cepat dan efektif. Pengamatan sel ovum dan sperma seharusnya dilakukan per kelompok agar praktikan lebih memahami dan lebih mudah dalam mengerjakan laporan.






DAFTAR PUSTAKA
Asmarinah. 2010. Peran Molekul Kanal Ion pada Fungsi Sperma. Departemen Biologi Kedokteran, Universitas Indonesia. Jakarta.

Campbell, N.A. Jane B. Reace. Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi 4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Gilbert, A. B. 1980. Poultry. In : E.S.E. Hafez (Editor). 1980. Reproduction In Farm Animals. 4th Ed. Lea and Febiger, Philadelphia. hlm. 423-445.

Gupta, N., G, Singh, S.M. Singh dan K.R.C. Reddy. 2010. Histological changes
In ovaries of mice exposed to butea monosperma: preliminary study. 28
(4) : 1309-1314.

Guyton, C.A. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 7 Bagian 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Hardijanto, R. Eny., Narumi H.E. 2007. Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI)
untuk Pengukuran Luas Permukaan Kepala Sel Spermatozoa Domba. UNAIR, Surabaya.

Hardjopranjoto, S.  1989.  Ilmu Kemanjiran pada Ternak.  Airlangga University
Press, Malang.

Huliana, M. 2001. Panduan Menjalani Kehamilan Sehat. Puspa Swara, Jakarta

Hunter, R.H.F. 1995. Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik. Penerbit ITB, Bandung.

Isnaeni, W. 2006. Fisiologi Hewan, Kanisius, Yogyakarta.

Manuaba, C. Manuaba, F. Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Nugraheni, T., O. Parama Astirin., T. Widiyani. 2003. Pengaruh vitamin c terhadap perbaikan spermatogenesis dan kualitas spermatozoa mencit (Mus musculus l.) setelah pemberian ekstrak tembakau (Nicotiana tabacum L.), 1 (1): 13-19.

Partodihardjo, S. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Sumber Widya, Surabaya


Rohen, J.W. dan L.D. Elke. 2008. Embriologi Fungsional Perkembangan Sistem Fungsi Organ Manusia Edisi 2. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Salisbury, G.W dan N.L. VanDemark. 1984. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sari, R. P. 2008. Tingkat Maturasi Oosit In Vitro pada Kambing Umur Pra Pubertas dan Pubertas. Umiversitas Brawijaya. Malang.      

Sloane, E. 1994. Anatomi dan Fisiologi untu Pemula. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Sugito, H dan Mujasam. 2009. Konduktivitas Listrik Pulp Kakao dengan Fermentasi dan Pengenceran,. 12 (3):93–98.

Sumardjo D. 2009. Pengantar Kimia. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung.

Tomaszewska, M.W., I Ketut Sutama, I Gede Putu, Thamrin D.C. 1991. Reproduksi Tingkah Laku dan Produksi Ternak di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Wasito, B. dan Sarwanto. 2008. Spermiogram pria infertil di laboratorium infertil - andrologi puslitbang sistem dan kebijakan kesehatan surabaya. Bul. Penelitian. Kesehatan. 36 (3):106-114.

Ville, C. A., F. W. Waren dan Robert D. B. 1999. Zoologi Umum. Erlangga,
Jakarta.

Yusuf, M. 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Lembaga Kajian Dan Pengembangan Pendidikan Universitas Hasanuddin, Makassar.


BAB I
MATERI DAN METODE
Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak dengan materi Pemilihan Pejantan dan Betina Unggul dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 31 November 2013 pukul 11.00-14.00 WIB di Kandang sapi potong dan perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
1.1.      Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum Pemilihan Pejantan dan Betina Unggul menggunakan alat yaitu meteran yang berfungsi untuk mengukur ukuran skrotum, alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan. Sementara bahan yang digunakan yaitu sapi potong jantan dan betina, sapi perah jantan dan betina .
1.2.      Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum Pemilihan Pejantan dan Betina Unggul yaitu untuk pejantan mengukur lingkar skrotumnya dan mengamati bentuk skrotum, mengamati kondisi alat reproduksi penis, mengamati dan menilai Body Condition Score (BCS) dengan memeriksa perlemakannya dengan melihat kondisi tubuh. Pada betina mengamati alat reproduksi vulva, bentuk dan jumlah ambing, mengamati dan menilai BCS dengan memeriksa perlemakan dan melihat kondisi tubuh. Serta menentukan umur sapi melihat kondisi poel pada giginya.



BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1.      Judging Pejantan
            Berdasarkan pengamatan performa ternak sapi jantan, diperoleh hasil penilaian sebagai berikut:
Tabel 1. Judging Ternak Jantan
Kriteria
Sapi Potong
Sapi Perah
1
2
1
2
Postur kaki
Normal,kokoh, sejajar
Normal, lurus, kokoh
Normal, sejajar, kokoh
Normal, kokoh, sejajar
Skrotum
41 cm, simetris
44 cm, simetris
37 cm, simetris
35 cm, simetris
Kondisi alat reproduksi
2
2
2
2
BCS
3
2
3
2
Umur
2
3
2
1
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
2.1.1.   Postur Kaki
            Berdasarkan pengamatan pada bentuk kaki pada sapi pejantan potong dan perah memiliki bentuk keseluruhan yang normal dengan ditunjukan bentuk kaki yang lurus tidak membentuk huruf x, terlihat kokoh dan sejajar hal ini menunjukkan jika sapi pejantan tersebut merupakan bibit yang bagus. Hal ini sesuai pendapat Guntoro (2002) yang menyatakan bahwa kaki calon pejantan yang bagus memiliki kaki besar tegak dan kokoh. Ditambah pula oleh pendapat Fikar dan Dadi (2010) yang menyatakan bahwa kaki pejantan kokoh (tidak kecil tidak kurus) pijakan kuat.
2.1.2.   Skrotum
Skrotum  pada sapi potong 1 memiliki ukuran lingkar 41 cm, sapi potong 2 berukuran 44 cm, sapi perah 1 berukuran 37 cm dan sapi perah 2 berukuran 35 cm. Semuanya memiliki bentuk yang simetris. Bila kondisi simetris maka produksi sperma menunjukkan hasil yang bagus. Hal ini sesuai pendapat Guntoro (2002) yang menyatakan bahwa sapi pejantan harus memperhatikan lingkar skrotum karena besarnya lingkar skrotum mempunyai korelasi positif dengan tingkat produksi sperma. Ditambahkan pula oleh pendapat Wiyono et al., (2007) yang menyatakan bahwa untuk pejantan, testes sapi umur di atas 18 bulan harus  simetris (bentuk dan ukuran yang sama antara skrotum kanan dan kiri).

2.1.3.   Kondisi Alat Reproduksi

Kondisi sapi yang sehat tidak menunjukkan kelainan pada organ reproduksi luar sehingga bebas dari penyakit menular terutama yang dapat disebarkan melalui aktifitas reproduksi. Hal ini sesuai pendapat Fikar dan Dadi (2010) yang menyatakan bahwa kondisi fisik kelamin jantan seperti testis, preputium dan penis dalam keadaan normal dan berfungsi baik. Pada testis memiliki bentuk oval dan juga simetris diantara keduanya serta bentuk pada sapi berbeda-beda sesuai dengan bangsanya dan lingkungannya. Hal ini sesuai pendapat Frandson (1992) yang menyatakan bahwa panjang testis sapi dewasa adalah 12-15 cm, diameter tengahnya 6-8 cm berukuran berat 300-500 gr tergantung pada umur, berat badan, dan bangsa sapi.



2.1.4.   BCS
Berdasarkan hasil pengamatan BCS pada masing-masing sapi dapat diketahui kodisi BCS pada pejantan potong 1 bernilai 3 dan pada pejantan sapi 2 bernilai 2. Sementara pada pejantan perah 1 bernilai 3 dan pejantan perah 2 bernilai 2. BCS dengan nilai 3 menunjukkan kondisi sapi sedang ditandai dengan adanya kondisi tubuh tidak besar dan tidak kecil serta tulang tidak begitu tampak. Hal ini sesuai pendapat Awalludin dan Tanda (2010) yang menyatakan bahwa pada kondisi skor 3 ternak menunjukkan keragaan tubuh yang sedang atau menengah dimana tonjolan tulang sudah tidak terlihat lagi dan kerangka tubuh, pertulangan dan perlemakan mulai terlihat seimbang namun masih terlihat jelas garis berbentuk segitiga antara rusuk bagian belakang dan tonjolan pangkal tulang ekor sudah membentuk kurva karena adanya penimbunan perlemakan pada pangkal tulang ekor. BCS dengan skor 2 menunjukkan sapi tersebut kurus, tampak pertulangan pada beberapa bagiannya. Ditambahkan pendapat Glaze (2009) yang menyatakan bahwa Body Condition Scores (BCS)  umumnya dipakai angka 1-9 untuk mengukur dari yang paling kurus hingga yang paling gemuk. Angka 1-3 untuk ukuran kurus, 4 untuk ukuran sedang, 5-7 untuk ukuran optimum dan 8-9 untuk ukuran gemuk.
2.1.5.   Umur
            Berdasarkan hasil pengamatan umur sapi melalui gigi yang poel pada sapi jantan dari masing-masing sapi yaitu pada sapi jantan potong 1 yaitu poel 2 yang berarti berumur 2 tahun, sapi potong 2 yaitu poel 3 yang berarti umur 3 tahun serta pada sapi perah jantan yaitu pada sapi perah 1  menunjukkan poel 2 yang berarrti berumur 2 tahun dan sapi perah 2 poel 1 yang berarti berumur 1 tahun. Hal ini sesuai pendapat Purnomoadi (2003) yang menyatakan bahwa keadaan gigi dan pendugaan umur sapi dapat diketahui sebagai berikut gigi seri susu dalam telah berganti dengan gigi tetap berumur 1,5-2 tahun, gigi seri susu dalam sudah berganti dengan gigi tetap berumur 2,5 tahun, gigi seri susu tengah luar sudah berganti dengan gigi tetap berumur 3 tahun, dan gigi seri luar sudah berganti dengan gigi tetap berumur 3,5 tahun. Pengamatan dengan melihat poel dapat diketahui umurnya dengan semakin banyak gigi yang powel maka semakin bertambah pula umurnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulastri dan Sumadi (2012) yang menyatakan bahwa semakin tua umur ternak, bentuk kekerasan gigi menjadi semakin lebar dan juga semakin tua umur ternak, jarak antar gigi seri permanen semakin longgar atau renggang.
2.2.      Judging Betina          
Berdasarkan pengamatan performa ternak sapi betina, diperoleh hasil penilaian sebagai berikut:
Tabel 2. Judging Ternak Betina
Kriteria
Sapi Potong
Sapi Perah
1
2
1
2
Postur kaki
Normal, lurus, kokoh
Normal, lurus, kokoh, sejajar
Normal, lurus, kokoh
Normal, lurus , kokoh
Ambing
Sedang, 4 puting, simetris
Kecil, 4 puting, tidak simetris
Sedang, 4 puting, simetris
Kecil, 4 puting, tidak simetris
Kondisi alat reproduksi
2
2
2
2
BCS
,3
5
4
2
Umur
2
1
4
2
Sumber: Data Primer Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak, 2013.
2.2.1.   Postur Kaki
Berdasarkan  hasil pengamatan pada kaki rata-rata memiliki bentuk kaki yang normal dengan kaki yang lurus dan kokoh serta sejajar hal ini menunjukkan bahwa indukan  tersebut merupakan bibit yang bagus.  Hal ini sesuai pendapat Syafrial et al., (2007) yang menyatakan bahwa kondisi awal dalam pemilihan bibit yang baik yaitu bentuk kepala, tanduk dan kaki kelihatan lebih besar dan kuat, bahu lebar serta tidak cacat. Hal ini sesuai pendapat Fikar dan Dadi (2010) yang menyatakan bahwa kondisi kaki sangat penting bagi sapi betina karena dibutuhkan untuk menopang saat terjadi kebuntingan.  


2.2.2.   Ambing
Ambing  pada sapi potong 1 dan sapi perah satu dihasilkan ukuran ambing sedang, memiliki 4 puting dan simetris. Kondisi ini menunjukkan sapi tersebut mendekati kondisi ideal. Hal ini sesuai pendapat Fikar dan Dadi (2010) yang menyatakan bahwa bentuk ambing relatif besar, letaknya simetris, dan mempunyai puting sebanyak 4 buah. Sementara pada sapi potong 2 dan sapi perah 2 memiliki bentuk ambing kecil, terdiri dari 4 puting dan tidak simetris yang dapat berakibat menurunkan produksi susu yang dihasilkan. Ditambahkan oleh pendapat Blakely dan Bade (1991) bahwa ambing merupakan kelenjar kulit yang ditumbuhi bulu kecuali pada puting, empat saluran susu yang terpisah bersama menuju ambing.

2.2.3.   Kondisi Alat Reproduksi
Alat reproduksi kondisinya rata-rata normal dan lengkap sehingga memiliki kemampuan untuk perkawinan. Vulva yang normal ditandai dengan kondisi vulva yang tidak miring atau sesuai sehingga membuat hasil perkawinan lebih berkualitas. Hal ini sesuai pendapat Fikar dan Dadi (2010) yang menyatakan bahwa betina yang berkualitas ditandai dengan kemiringan vulva tidak terlalu ke atas. Ditambahkan pendapat Salisbury dan VanDemark (1986) bahwa pada perkawinan secara alamiah penis masuk ke dalam alat reproduksi betina melewati vulva, dan pada waktu melahirkan anak sapi melewatinya.


2.2.4.   BCS
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui nilai BCS yang paling bagus yaitu sapi potong lima dengam skor 5 diman a kondisi badannya gemuk dan besar. Hal ini sesuai pendapat Awalludin dan Tanda (2010) skor kondisi tubuh 5 dengan kerangka tubuh dan struktur pertulangan yang tidak terlihat dan tidak teraba dan tulang pangkal ekor sudah tidak terlihat karena tertimbun lemak. Sementara pada sapi yang lain kondisi BCS-nya sapi potong 1 yaitu 3, sapi perah 1 yaitu 4 dan sapi perah 2 yaitu 2. Untuk kriteria BCS 2 dan 3 tidak bisa dikatakan sebagai sapi unggul karena masih terdapat kekurangan misalnya tampak pertulangan dan tubuh agak kecil. Ditambahkan p endapat Sinaga (2009) yang menyatakan bahwa penilaian sapi induk dapat dilihat dengan cara melihat kondisi tubuh dari ternak, dada penuh daging, luwes dan lain-lain.
2.2.5.   Umur
            Berdasarkan hasil pengamatan pada umur melalui gigi yang poel dapat diketahui bahwa pada sapi betina potong 1 poel 2 yang berarti berumur 2 tahun, sapi betina 2 poel 1 yang berarti berumur 1 tahun serta pada sapi betina perah 1 poel 4 yang berarti berumur 4 tahun dan sapi betina perah 2 poel 2 yang berarti berumur 2 tahun. Hal ini sesuai pendapat Purnomoadi (2003) yang menyatakan bahwa keadaan gigi dan pendugaan umur sapi dapat diketahui sebagai berikut gigi seri susu dalam telah berganti dengan gigi tetap berumur 1,5-2 tahun, gigi seri susu dalam sudah berganti dengan gigi tetap berumur 2,5 tahun, gigi seri susu tengah luar sudah berganti dengan gigi tetap berumur 3 tahun, dan gigi seri luar sudah berganti dengan gigi tetap berumur 3,5 tahun. Pengamatan dengan melihat poel dapat diketahui umurnya dengan semakin banyak gigi yang powel maka semakin bertambah pula umurnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulastri dan Sumadi (2012) yang menyatakan bahwa semakin tua umur ternak, bentuk kekerasan gigi menjadi semakin lebar dan juga semakin tua umur ternak, jarak antar gigi seri permanen semakin longgar atau renggang.
2.3.      Recording Reproduksi
            Recording merupakan pencatatan terhadap ternak secara indivdu yang menunjukkan pertumbuhan dan perkembangannya. Macam-macam recording yaitu identitas yang berfungsi untuk mempermudah dalam pengenalan ternak, catatan khusus agar memudahkan bagi perawat ternak untuk melakukan penanganan dan mengurangi terjadinya kesalahan. Manfaat recording dalam reproduksi ternak yaitu memudahkan dalam melakukan seleksi ternak, menghindari terjadinya inbreeding, menjadikan pekerjaan lebih efektif dan efisien, menghindari dan mengurani kesalahan manajemen pemeliharaan, pengobatan, pemberian pakan ataupun produksi semen serta memudahkan pengenalan terhadap ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Santosa (1997) yang menyatakan bahwa recording merupakan pencatatan ternak yang bertujuan untuk mengetahui asal usul ternak yang dipelihara, sehingga nantinya diharapkan tidak akan diharapkan ternak yang mengalami inbreeding. Recording dapat memudahkan tata laksana selanjutnya pada ternak, memudahkan pengontrolan dan memudahkan peningkatan mutu genetik. Syarief dan Sumoprastowo (1985) menambahkan bahwa pencatatan atau recording tidak terlepas dari salah satu pelaksanaan pemberian tanda pengenal ternak berupa nomor telinga, tanduk, tato cap bakar, kalung bernomor, dan sebagainya.




BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
5.1.      Simpulan
            Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum ilmu reproduksi ternak dengan materi pemilihan indukan dan pejantan yang unggul dapat disimpulkan bahwa sapi betina dan pejantan yang digunakan dalam praktikum memiliki kriteria yang bagus karena mempunyai skor rata-rata 3 sehingga dapat dijadikan sebagai bibit yang unggul yang diharapkan dapat menghasilkan keturunan yang baik.
5.2.      Saran
            Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak dengan materi pemilihan indukan dan pejantan yang unggul sebaiknya praktikan lebih berhati-hati dalam penilaian kondisi tubuh terhadap ternak agar ternak tersebut tidak terganggu dan stres. Selain itu, praktikan diharapkan teliti dalam penilaian kondisi tubuh terhadap ternak agar didapatkan hasil yang akurat.


DAFTAR PUSTAKA
Awalludin dan P. Tanda. 2010. Pengukuran Ternak Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Peranian, NTB.

Blakely, J. dan D, Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Fikar, S dan D. Ruhyadi. 2010. Beternak dan Bisnis Sapi Potong. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi 4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Glaze, J.B. 2009. Body Condition Scores (BCS) in Beef Cattle. http://osufacts.okstate.edu/bcs_pres_carl.pdf[01Oktober2009].

Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Kanisius, Jakarta
             
Purnomoadi, Agung. 2003. Ilmu Ternak Kerja dan Potong. Universitas Diponegoro. Semarang

Salisbury dan N.L. VanDemark. 1986. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan. UGM Press, Yogyakarta

Santosa, U. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya, Jakarta

Sinaga, S. 2009. Judging dan Seleksi. Unpad.ac.id

Sulastri dan Sumadi. 2012. Pendugaan Umur Berdasarkan Kondisi Gigi Seri Pada Kambing Etawah di Unit Pelaksanaan Teknis Ternak Singosari. UGM dan Universitas Lampung

Syafrial. E, E. Susilawati dan Bustami. 2007. Manajemen Pengelolaan Penggemukan Sapi Potong. Departemen Pertanian.

Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo. 1985. Ternak Perah. CV. Yasaguna, Jakarta


Wiyono, D Budi dan Aryogi. 2007. Petunjuk Teknis Pembibitan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Pasuruan